1
4

Menjiwai Puisi Bersama Fachri

Menjiwai Puisi Bersama Fachri

Menjiwai Puisi Bersama Fachri

Tak banyak bicara, Mochamad Fachry Rizky Zamzami duduk tenang di kursi barisan

pertama menyaksikan penampilan peserta lomba baca puisi di Festival Lomba dan Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMA Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2019 di Hotel Takashimaya, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (7/8/2019). Ia tengah menunggu giliran untuk tampil.

Tak lama, panitia menyebut nomor urut yang ditempel di dada Fachri. Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Cimahi itu masih dengan pembawaan tenang, berjalan menuju panggung dan memberi salam dengan membungkukkan badan kepada juri dan penonton. Ia menghela napas dalam-dalam dan menatap naskah yang dipegangnya. Setelahnya, Fachri seolah menjadi pribadi yang berbeda.

Mimiknya berubah. Fachri menjelma jadi sosok sahabat yang berapi-rapi, menggambarkan

kehidupan kepada kawannya sendiri saat membacakan puisi “Kepada Kawan” karya Chairil Anwar. Teriakannya memecah keheningan di aula.

Fachri kembali berubah di pembacaan puisi kedua. Membawakan puisi “Membaca Tanda-Tanda” karya Ismail Marzuki, siswa kelas XI ini begitu meresapi puisi yang ia baca. Mengabarkan kabar buruk tentang alam yang rusak dan semakin menua. Ia membaca puisi dengan sangat ekspresif. Terlihat dari gerakan tangan yang tegas dan air muka yang menggambarkan kesedihan. Penampilannya pun diakhiri tepuk tangan dari seluruh penonton.

Menurut Fachri, menjiwai puisi yang dibaca merupakan unsur yang sangat penting.

“Karena penyampaian pesannya melalui bahasa verbal, penjiwaan pun bisa memperkuat sudut pandang kita untuk menunjukkan isi puisi terhadap penonton,” ucapnya.

Namun, tak serta-merta Fachri menguasai teknik penjiwaan begitu saja. Ia mengaku harus berlatih ekstrakeras. “Untuk teknik pembacaan puisi, saya dibimbing oleh pembimbing dan guru di sekolah. Sedangkan untuk penjiwaan, saya banyak belajar dari teman sekolah, Teh Zulfa yang aktif di esktrakurikuler teater sekolah,” ungkapnya.

Siswa kelahiran Kota Cimahi, 13 Oktober 2001 ini bercerita, dirinya mulai mengenal dunia puisi ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Berawal dari menulis diary (buku harian), ia kemudian mencoba membaca puisi. “Saya juga mau mempelajari gaya sastra Indonesia tuh seperti apa dan bagaimana cara mengaplikasikannya,” ujarnya.

Dari membaca puisi, Fahcri mengaku mendapat banyak ilmu dan pelajaran. “Kita dibuat peka terhadap diri sendiri, orang lain juga lingkungan. Selain itu, karena penggunaan diksi yang jarang dipakai, jadinya saya harus mempelajari makna dari pemilihan kata tersebut,” tutupnya.***

 

Sumber :

https://dogetek.co/sejarah-voc-di-indonesia/